August 04, 2018

Bertemu Kembali


    19.13, hujan harus menunda pertemuan kami. Pundi-pundi rindu sepertinya tak akan muat lagi, butuh celengan baru. Sebagian penuh harap akan janji esok, sebagian lagi merasa tak punya cukup waktu untuk disisihkan, lainnya "oh, aku skip".

***
Indah - aku - Ivan


     "Sudah lama?", masih cukup kaku untuk memulai percakapan yang entah sampai pukul berapa akan ditutup. Satu per satu teman kami datang, perlahan ingatan tentang masa yang cukup menyenangkan muncul setelah tertutup album foto kelulusan. Rasanya seperti kembali ke suatu pagi menunggu teman se-gank di depan gerbang, bocah menuju remaja yang tidak ingin sendiri melewati guru piket di dekat pos satpam. Aduh, rasa macam apa ini?

     Detik ini, layar pintar masih menjadi sekat di meja yang cukup untuk delapan pasang mata saling berhadapan. Yakin, masing-masing punya cerita entah untuk disimpan atau dibagi. Untukku tak perlu hal membanggakan atau menyedihkan diceritakan, hanya kabar baik yang aku ingin. Karena sebenernya kami tidak tahu apa yang sudah masing-masing dari kami lakukan dan perjuangkan.
"Teman tetap saja teman sampai semua urusan mereka selesai"
     Nyaris seperempat abad masing-masing dari kami mengenal kehidupan, belajar dari hal-hal kecil sampai yang bisa mendewasakan. Kerikil, batu, arus, angin, hingga badai bisa saja sudah dilalui. Tidak perlu pengakuan, apalagi sertifikat yang menerangkan sudah melalui fase tersukar dalam hidup. "Masing-masing kepala sudah dapat bagian peran dan beban, tinggal gunakan isi kepalamu itu"
      Untuk orang tua, keluarga kecilmu, orang lain, negara, terlebih untuk dirimu sendiri, semoga lebih banyak kebahagian yang kamu berikan. Tidak ada yang salah dalam menjalani pilihan masing-masing, tidak ada yang salah menuju baik.
"Sudah disini, arus makin kencang, jangan tenggelam!"
*** 
    Beberapa kisah yang sempat dirangkai, perlahan mendebu begitu saja, harus berakhir tanpa persetujuan pemilik peran. Rasanya bikin sesak, tapi entah mengapa cukup melegakan. Berbatu, berkelok, tanjakan, jurang sudah diatur sedemikian, cukup untuk porsi masing-masing. Tenang saja, ini tidak lebih dari matematika di hitungan remaja tanggung, banyak bonusnya. Skenario memang diciptakan, hadapi saja.

Jangan takut ombak datang, air yang tenang saja bisa menghanyutkan. 

***
     Benar katanya, kedewasaan seseorang tidak terhitung dari angka yang menunjukkan kelegalan terhadap suatu hal, melainkan dari jawaban  yang dia ciptakan sendiri saat menghadapi permasalahan yang cukup  memusingkan. Klasik, itu saja yang tidak kamu akui. Mengesalkan, mendebarkan, menegangkan, apapun itu, akan sampai pada garis akhir.

Yang kami tahu perjalanan dimulai saat kita menginginkan hal yang disebut tujuan. Teruslah berharap, karenanya harapan akan menuntun pada satu pintu. Tak apa ketika kamu harus berjalan pelan, merangkak, atau bahkan tak sanggup lagi untuk bergerak. Masing-masing dari kami tahu, langkah mundur bukan berarti selesai. Semoga lebih banyak hal-hal baik yang menyertai setiap perjalanmu, teman

*Untuk temanku yang sedang dalam perjalanannya, Viqi
ki-ka (Kholik, Indah, Aku, Ivan,Saufi, Lubis)
berdiri (Husni, Mifta)

Subscribe

Resolia R. Powered by Blogger.