12.24.2016

Mendaki Hubungan

     Katanya, sifat asli seseorang mudah sekali terlihat saat dia mendaki gunung? Kalau memang benar, kamu harus cari cara lain untuk mengenalku lebih jauh. Susah dapat ijinnya kalo mau naik gunung, kecuali kalau kamu yang minta izin bapakku hehe.
===============================================================================


© Yudhistira Adi W

        Dalam mendaki, banyak pilihan yang alam berikan. Tanjakan atau turunan, hutan atau sabana, berbatu atau berpasir, bersusah payah sendiri atau bersama orang lain. Diantara beberapa pilihan kamu memutuskan untuk bersamanya. Diantara banyaknya alasan, kamu memilih untuk tidak punya
alasan menyukainya. Mungkin sedikit terkesan naif, tapi memang kamu tidak punya alasan mengapa harus bersama.

© Yudhistira Adi W
     Berbeda pendapat memang hal yang wajar dan biasa sekali terjadi dalam berbagai macam hubungan. Aneh rasanya jika pihak pertama selalu menuntut ini itu dan pihak kedua hanya mengangguk tanpa protes kenapa dia harus melakukannya, seperti tuan tanah dan budak saja.  Tidak. Hubungan dua arah tak boleh berlaku demikian, pendapatmu boleh B saat aku lebih setuju pada A. Mungkin dari situ, bisa kamu temukan alasan kenapa kita harus berjalan bersama, beriringan. Kalau tidak, bisa lain kali di lain tempat.

© Yudhistira Adi W
      Kamu memang lebih banyak mendengar, selebihnya "ah, iya", "iya boleh", "menarik", "begitu, yaa" atau paling sering "baiklah". Bagaimana aku tahu kalau kamu sudah pernah melewati jalan itu dan menemukan jalan lain yang lebih cepat tanpa memberitahuku? Bagaimana aku harus mengatur emosiku agar tidak cepat lelah saat kamu sudah mengetahui medan yang akan kita daki tanpa kamu memberitahuku? Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak memberitahuku dengan alasan "tidak ingin menjadi yang paling tahu"? Belum lagi bagaimana-bagaimana lainnya, sedangkan aku belum pernah melewatinya. Ah, benar memang menjalani hubungan itu ibarat mendaki gunung.

© Yudhistira Adi W
         Jika ada hal yang sulit  dilihat, ingat apa yang ada di sekitarmu. Bersama siapa kamu saat ini, dan kerjakan apa yang sedang kamu hadapi. Termasuk kenapa kamu lebih memilih mendaki  dari minum kopi atau main game di waktu luangmu, memilihnya dari beberapa pilihan, dan memilih untuk tidak punya alasan kenapa harus bersamanya. Berbahagia memang dengan caramu sendiri, tetapi merasa cukup itu pilihan masing-masing. Jadi, itu pilihanmu. Karena mendaki itu, bukan tentang dengan siapa kamu sekarang atau tentang siapa yang menunggumu di puncak.

© Yudhistira Adi W
        Kadang seseorang bertahan bukan karena ingin tetap tinggal, dia hanya tidak bisa membenarkan rasa bersalah meninggalkanmu atas banyaknya pelajaran dari beberapa hal. Senyum, tawa, arah, tujuan, orang lain, berbagi dan kebersamaan, yang mungkin menjadi sebuah alasan. Jika bertahan tidak membawamu dalam keadaan yang baik, atau malah memperburuk jarak diantara kita, melepaskan mungkin bisa melegakan. Jangan menggenggam apa yang sudah tidak ingin kamu genggam, karena rasanya sudah berbeda dari sebelumnya. 

© Yudhistira Adi W
        Untuk luka yang masih membekas, kamu tidak perlu khawatir apa lagi merasa bersalah, perasaan yang baik tidak seharusnya disalahkan. Lihat, kamu bisa saja berdikari di puncak. Dan ketika semuanya berakhir, saat seluruh keberanian benar-benar menguap hingga hal-hal paling kecil dan remeh pun terasa membahagiakan dan disykuri, yang kamu butuhkan adalah waktu untuk memulihkan diri sampai lupa betapa sakitnya, betapa melelahkannya, betapa ingin mendaki ke tempat yang baru. Bentuk keikhlasan yang aku dapat darimu, terima kasih. Dan untuk kamu, semoga lekas bertemu di puncak yang lain.




Ps: Terima kasih Yudhis, sudah berbagi foto-fotonya. Kapan-kapan, ajak aku mendaki😄

2 comments:

  1. Sayang halamannya gak bisa bersalju. Biar cocok.

    ReplyDelete
  2. 😱😱😱😱 mikirnya sih ini cerita mendaki gunung meski judulnya begitu. Ahahaha.. Keren

    ReplyDelete